Thursday, January 9, 2020

DIA, NELA!


DIA, NELA!
(kisah cintaku)

Nela menyambutku antusias. Aku tahu apa yang membuatnya seperti itu. Tentu saja,  dengan kedatanganku itu artinya dia bisa menanyakan kabar Satria, kekasihnya. 

Aku dan Satria sudah menjadi sahabat dari dulu. Dan sekarang kami bekerja dalam satu atap gedung yang sama di jakarta.

Setiap aku mengambil cuti untuk pulang ke Bandung, selalu kusempatkan untuk main ke rumah Nela. Aku tidak berniat sama sekali memberinya kabar perihal Satria, tapi tentu saja Nela tidak mungkin melewatkan bertanya soal kekasihnya itu.

Biasanya aku akan dengan senang hati menceritakan tentang Satria. Pencapaiannya, sepak terjangnya yang tidak bisa dianggap remeh hingga dia memperoleh posisi bagus di pekerjaannya sekarang. Sebagai sahabat tentu aku bangga padanya. Terlebih lagi dia memiliki kekasih cantik yang setia seperti Nela. Beruntung sekali dia. Membuat iri saja.

Sudah setahun hubungan mereka saat aku dan Satria memutuskan untuk menerima tawaran mutasi ke kantor pusat di Jakarta. Aku pikir itu peluang yang bagus. Disana kami bisa lebih berkembang. 

Aku menemani Satria saat dia pamit pada Nela. Satria meyakinkan akan sering pulang ke Bandung jika libur, saat Nela tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Sebenarnya aku kasihan melihatnya, tapi kupikir ini demi kebaikan mereka.

Dan benar. Belum genap satu tahun kami pindah ke jakarta, Satria sudah bisa membuktikan kemampuannya. Sebagai sahabat aku ikut senang. Dan itu mungkin salah satu jalan agar Satria bisa segera melamar Nela.

Nela sangat bahagia saat tahu kabar itu. Satria naik jabatan. Tapi suatu hari dia meneleponku. Dia bilang akhir-akhir ini Satria sulit dihubungi. Kirim pesan pun balasnya lama dan seperlunya. Tidak biasanya Satria seperti itu. Tak urung kabar itu membuatku berpikir. Satria memang sudah jarang mampir ke kostanku sejak ia dipromosikan menjadi manager.

Biasanya kami akan menghabiskan waktu untuk main PS seusai bekerja. Di kantor pun aku sudah jarang melihatnya. Mungkin karena sekarang dia menempati lantai 12 tempat divisi marketing berada. Sedang aku ada dilantai 10. Kadang kami hanya bertemu di lobi gedung di pagi hari. Itupun hanya sebentar. Bahkan aku sudah jarang melihatnya makan siang di kantin kantor. Menjadi seorang manager mungkin memang sesibuk itu.

Terakhir, dua minggu sebelum  pulang ke Bandung aku sempat meneleponnya. Bermaksud mengajaknya liburan. Tapi dia bilang,  ada dinas luar kota karena ada event perusahaan. Aku memaklumi semua kesibukannya itu sampai aku melihat hari itu. Hari dimana aku menemukan Satria keluar gedung dengan menggandeng seorang wanita cantik. Wanita yang akhirnya kutahu bernama Karina, salah seorang staf divisi marketing. 

Awalnya aku berpikiran positif saja. Karena mereka satu rekan divisi. Namun pikiran positif itu hilang seketika, saat beberapa hari setelahnya aku memergoki mereka berciuman bersandarkan mobil milik Satria di area gedung parkir perusahaan.

Aku terbelalak tak percaya. Entah kenapa emosiku mendadak naik ke ubun-ubun melihat adegan itu. Dengan langkah panjang aku mendekati mereka. Tanpa aba-aba aku tarik kerah belakang kemeja Satria hingga membuat cumbuan mereka terurai. Satu pukulan tepat mengenai rahang Satria. Dia tersungkur karena kurasa pukulanku lumayan keras. Wanita rubah itu, ah maksudku Karina menjerit melihatnya. Tapi peduli apa?

"Bajingan!" umpatku. "Brengsek! Nela sama sekali gak pantas lu perlakuin ky gini, njir!"
 
Aku menerjangnya kembali. Namun kepalanku tertahan saat si brengsek itu mengeluarkan suara. "Lu pikir gue gak tau, kalau lu tertarik sama Nela! Jangan munafik Van. Bukannya lu seneng,  kesempatan lu sekarang udah terbuka buat milikin Nela."

"Bangsat!" 

Dengan keras kuayunkan satu pukulan lagi ke wajahnya. Kuharap hidungnya yang mancung itu akan patah. Aku meninggalkannya yang masih tersungkur di lantai. Jujur, aku kecewa. Nela akan lebih kecewa lagi jika tahu kekasih yang dia percaya berkhinat seperti itu.

🌸🌸🌸

Nela melihat ke belakangku mencari sesuatu. Aku tahu yang dia cari.

"Dia gak ikut," ujarku memasuki rumahnya. Kudengar desah kecewa dari mulutnya. 

"Udah tiga bulan dia gak pernah pulang lagi ke Bandung. Dia juga jarang telepon." Nela menghentakkan kakinya mengikutiku masuk. 

"Emang dia sibuk banget ya?" tanyanya begitu aku mendudukan diri di sofa ruang tamunya.

"Nih oleh-oleh." Tak kuhiraukan pertanyaannya. Aku menyerahkan paper bag yang kubawa. Berharap bisa mengalihkan fokusnya.

Kulihat Nela mengintipnya sebentar,  lalu mata bulatnya beralih menatapku.

"Ada apa? Satria baik-baik saja kan?"

Huft gagal,  dia masih saja menanyakannya.
 
"Dia baik. Mending kamu buatkan aku minum deh. Datang jauh-jauh gak dikasih minum.

Nela bersungut menatapku. "Iya, iya."

Dengan kesal dia beranjak ke dapur. Sebenarnya aku bingung. Aku kasihan melihatnya. Aku masih tidak menyangka, Satria bisa melakukan itu pada Nela. 

Sekarang,  apa yang harus aku katakan pada gadis itu? Membongkar kebrengsekan Satria lalu menyuruhnya melupakan semua? Aku tak sampai hati. 

🌸🌸🌸
Aku mengalihkan pembicaraan setiap Nela mulai membahas tentang Satria. Aku tidak pandai berbohong apalagi pada Nela. Tentang pengkhianatan Satria bukannya aku menutupi dari Nela,  aku hanya tidak mau gadis itu terluka.

Satria memang suka memberi harapan pada gadis-gadis sejak sekolah dulu. Mungkin karena tampangnya yang bisa dibilang tampan, dia sangat suka tebar pesona. 

Membersamainya selama ini sedikit banyak aku tahu sifatnya. Saat dia mendekati Nela, aku pikir itu adalah akhir dari petualangannya. Karena yang aku tahu, Satria selalu memberikan harapan pada gadis-gadis tapi tidak pernah sekalipun mengajak mereka untuk berpacaran. Aneh memang, tapi itulah Satria. Jadi saat dia mengutarakan cinta pada Nela, kupikir kali ini dia serius.

Semoga Nela tidak menyadari air mukaku yang berubah saat membicarakan Satria. Aku terlalu jengkel pada lelaki brengsek itu. Dari caranya berbicara, Nela terlihat sangat mencintai Satria. Tapi apa yang dilakukan lelaki itu?

Aku bahagia melihat tawanya yang berderai-derai. Sebagian besar cutiku habis untuk menemaninya. Kemana pun Nela ingin pergi, pasti aku turuti. Seperti sekarang ini, kami sedang berada di taman hiburan. Aku pikir ini adalah pengalihan yang bagus, agar Nela lupa sesaat akan kesedihannya karena Satria belum juga menghubunginya.

Ponselku berdering saat aku sedang menunggu Nela. Dia pamit ke toilet tadi. Nama Satria muncul dilayar. Untuk apa dia menghubungiku, harusnya dia menghubungi Nela saja. Dengan enggan aku angkat teleponnya.

"Halo?"

'Lu masih di Bandung Van?'

"Masih, kenapa?"

'Gue mau pulang ke Bandung,  gue mau melamar Nela.'

Apa? Dia bego atau sinting?

"Heh brengsek! Setelah apa yang  udah lu lakuin, beraninya lu bilang mau melamar Nela?!"

'Jadi gue harus ngebiarin Nela jatuh ditangan lu begitu?'

"Lu jangan ngaco! Disini lu yang salah. Lu nyeleweng dan sekarang ngomong mau melamar? Lu jangan main-main."

'Gue serius.'

"Lu udah putusin cewek itu?"

'Putusin? Ya gaklah, gue cuma have fun aja.'

"Apa? Kelakuan lu makin gak jelas Sat. Gue gak mungkin ngebiarin Nela lu bodohi terusan."

'Terserah apa kata lu Van, yang jelas gue serius ingin melamar Nela.'

"Lu.... "

"Van..."

Aku tercekat. Suara Nela ada dibelakangku. Aku segera mengakhiri telepon. Dan berbalik ke arah Nela yang tengah berdiri menatapku penuh tanda tanya.

"Siapa yang telepon?" tanyanya. Aku bingung. "Apa itu Satria?"

Aku menghela nafas panjang lantas mengangguk. Berbeda dengan Nela, mata gadis itu nampak berbinar.

"Dia bilang apa?" 

"Dia bilang... " haruskah aku bilang yang sebenarnya?

"Apa Van?"

"Dia akan pulang buat melamarmu."

Mata Nela membola. Dia pasti tidak menduga. Itu  kejutan yang manis jika saja Satria tidak main dibelakang Nela.

"Kamu gak bercanda kan Van?"

Dengan terpaksa aku mengangguk lagi. Nela nampak terdiam. Tapi sejurus kemudian, tubuhnya menubrukku. Dia memelukku sangat erat.

"Aku bahagia banget Van, yang selama ini aku tunggu. Akhirnya dia datang melamarku. Aku pikir dia mengabaikanku,  tapi ternyata ada sesuatu yang dia persiapkan. Ini kejutannya Van!"

Tanganku mengepal, tidak bisa membalas pelukannya. Kebahagiaan apa yang kamu dapat Nela? 

Matanya berair saat dia melepas pelukannya. Tangisan bahagia.

"Kapan dia pulang Van?"

"Aku kurang tau Nel, dia hanya bilang begitu."

Bagaimana aku akan bisa merusak kebahagiaannya? Ada rasa sesak jika memikirkan hal itu.

🌸🌸🌸

Satria benar-benar pulang ke Bandung dan melamar Nela. Gadis itu dengan riang menunjukkan cincin pemberian lelaki itu. Aku hanya bisa mengucapkan selamat dengan senyuman getir.

"Gue gak nyangka lu bisa sebajingan ini Sat," desisku menatap tajam Satria yang kini terlihat tengah tersenyum miring.

"Gadis secantik Nela gak mungkin gue lepas gitu aja. Gak cuma cantik, dia juga penurut dan sangat manis. Aku cinta dia,  lu gak perlu khawatir Van."

"Cinta kata lu?! Kalo lu beneran cinta, lu gak bakal selingkuhin dia bego."

"Jangan serius gitu Van, anggap aja ini pencapaian gue lainnya. Lu gak nyangka kan gue bakal seberuntung ini?"

"Bajingan... " aku hampir menerjang Satria,  tidak sebelum aku mendengar suara Nela dari dalam. Mencoba bertahan dengan emosi yang menyesakkan dada, aku bangkit dari duduk.

Kulihat Nela keluar membawakan minuman diatas nampan.

"Aku pulang dulu Nel," kataku tanpa melihat kearahnya.

"Loh kok cepet banget. Kitakan baru kumpul lagi?" protesnya.

"Aku akan segera ke Jakarta ada banyak kerjaan yang kutinggalin. Sekali lagi selamat."

Tanpa menoleh lagi,  aku meninggalkan mereka berdua. Bisa saja aku membongkar kebusukan Satria. Meskipun dia sahabatku tindakannya sama sekali tidak aku benarkan. Terlebih lagi yang dia sakiti adalah Nela.

Aku menghela nafas berat. Aku hanya berharap Satria bisa memperlakukan Nela dengan baik. Rasanya begitu lelah menyimpan sebuah kebohongan yang nyata membuat sakit seseorang.

🌸🌸🌸

Aku masih terlelap saat sayup-sayup kudengar pintu kamarku diketuk. Mataku masih sangat berat, efek bergadang semalam. Kuraba nakas di samping tempat tidur mencari ponsel. Aku memicing melihat jam di layarnya, pukul 10 pagi.

Agak kesal saat tidurku terganggu. Jika yang datang ternyata tetangga kostan sebelah yang minta mi instan karena persediaannya habis, aku bersumpah akan melempar dia dengan panci mi rebusku.

Pintu masih diketuk saat aku dengan malasnya beranjak dari tempat tidur. Itu benar-benar berisik.
Pelan kubuka pintu kamar dan seseorang yang kini berdiri di hadapanku membuat mataku terbuka lebar.

"Nela?!"

Dengan ciri khas cengirannya, gadis itu sukses membuatku terkejut. Iyah, dia beneran Nela lengkap dengan travel bag di sebelah kakinya. Ini anak mau ngapain??? Kabur dari rumah?

"Hai... Van... " Dia mengangkat tangannya. Menelisik keadaanku yang baru bangun tidur. "Ya ampuuun, kamu baru bangun? Ini udah jam berapa?!" 

Aku masih bengong di tempat saat dia menerobos masuk ke dalam.

"Astaga! Kamar kamu berantakan banget!"

Nela bergerilya ke seluruh ruangan. Kostanku lebih mirip sebuah flat atau apartemen studio jadi ada ruang tamu yang sekaligus jadi ruang tengah,  lalu dapur mini dan satu meja kecil untuk makan. Agak kedalam lagi tempat tidurku dan kamar mandi. Harusnya tempat sekecil ini tidak sulit untuk membereskannya agar tetap rapi. Tapi untuk seorang pria yang masih hobi main PS dan makan kacang kulit sepertiku, rasanya itu sulit.

"Dimana kamar mandi? Aku mau numpang... "

Kesadaranku kembali saat dengar kata kamar mandi. Astaga! Kepalaku langsung mengingat celana dalam kotor yang mungkin saja masih aku taruh sembarangan di dalam kamar mandi. 

Hampir saja Nela membuka pintunya sebelum aku berhasil menghalanginya masuk.

Nela mengernyit. "Kenapa sih?"

"Aku duluan ya... Aku kebelet gak bisa ditahan."

"Tap__"

Braaghhh!

Aku buru-buru masuk kedalam. Tidak peduli teriakan Nela dari luar.
Sial, sial. Kenapa anak itu tiba-tiba muncul sih?! Tanpa berkabar apapun.

Segera kubereskan kamar mandiku yang berantakan. Haduh barang-barang keramatku ada dimana-mana. Untung baru kemarin aku bersihkan jadi aku tak harus menyikat bagian-bagian yang kotor.
Setelah beberes di kamar mandi dan kusempatkan gosok gigi dan cuci muka, aku keluar.

Kulihat Nela duduk di sofa bersedekap tangan memandangku kesal.

"Sorry... " cengirku menyusulnya duduk.

"Aku ini tamu loh disini."

Aku tertawa. "Iya iya maaf. Tapi tunggu, kenapa kamu bisa ada di Jakarta? Kamu mau ngapain? Kabur dari rumah?"

"Ya, gaklah. Aku ke Jakarta bukan tanpa tujuan."

"Mau ketemu Satria?"

Nela menggeleng. "Aku diterima bekerja di Jakarta Van,  makanya aku kesini."

"Satria? Dia tahu kan kamu mau kesini?"

"Dia aja gak setuju kalau aku kerja di sini. Dia menyuruhku membatalkan keberangkatanku. Tapi aku ingin. Ini kesempatan bagus. Aku di terima di perusahaan besar Van."

"Jadi Satria gak tau kamu ke Jakarta, makanya kamu datang ke tempatku?"

Nela mengangguk. "Lagian cuma alamat kamu yang aku tahu. Katanya Satria udah gak tinggal di alamatnya yang dulu."

"Iya, dia udah pindah di apartemen."

"Van bantuin aku yaa carikan tempat tinggal. Mulai besok aku sudah mulai pergi ngantor."

"Apa gak sebaiknya kamu temui Satria dulu?"

"Iya,  itu nanti saja. Yang penting kamu harus tolongin aku."

"Tempat disini sudah penuh semua. Untuk sementara kamu tinggal di tempatku aja. Nanti aku bisa menginap di kamar sebelah sebelum kamu dapat tempat tinggal."

Nela tersenyum senang. Manis sekali. Aku selalu suka melihat senyum itu.

"Kalau gitu antar aku ketemu Satria ya, kamu taukan alamatnya?"

Siang itu juga aku mengantar Nela ke apartemen Satria. Tapi aku tidak ikut masuk. Aku hanya memberitahu letak lantai dan nomor unitnya.

Tadinya aku mau langsung pergi setelah Nela memasuki lift. Tapi entah mengapa langkahku tertahan di lobi bawah apartemen.  Padahal aku yakin Nela akan lama bersama Satria disana. Atau mungkin juga Nela akan pulang diantar Satria. Jadi buat apa aku berlama-lama disini? Entahlah.

Tidak seperti dugaanku. Kulihat Nela keluar dari lift tidak berapa lama. Dia terlihat berjalan mendekat ke arahku.

'ko cepet?' batinku. 

Kemungkinannya Satria tidak ada di unitnya. Untung saja aku tidak jadi pulang.

"Aku laper,  kita makan yuk?" ajak Nela begitu tiba di depanku.

"Satria mana? Apa dia gak ada?"

Nela malah tersenyum.  "Ada kok. Yuk."

Dia lebih dulu beranjak. Ini aneh sekali. Kalau memang Satria ada, kenapa Nela cepat-cepat turun ke bawah dan malah mengajakku makan?
Apa sudah terjadi sesuatu?

Tidak ada yang berubah dari raut Nela. Dia tetap ceria seperti biasanya. Tidak berhenti bercerita ini itu, seolah stok obrolannya tidak akan pernah habis. 

Setelah makan siang, aku mengantarnya pulang dan menyuruhnya istirahat.

Karena aku masih penasaran,  aku melajukan mobilku kembali ke apartemen Satria. Ku tekan bel unitnya. Dan tak lama wajah Satria muncul.

"Evan."

"Gue ganggu lu?"

"Gaklah,  ayo masuk. Mau ngajak gue tanding PS lagi?"

Aku masuk ke unitnya yang berdominan warna cream dan abu-abu. Mataku langsung memicing saat pandanganku jatuh pada sesuatu yang teronggok di sandaran sofa.

Itukan,  mataku tak salah lihat. Dan biarpun aku seorang pria aku tahu betul itu apa. Sebuah benda keramat milik wanita. Penutup dada wanita.
Bajingan ini benar-benar....

"Ups sorry Van... " Satria tergelak lalu memungut benda itu. "Ini pasti milik Karina yang tertinggal."

Aku menatapnya tak suka. "Lu ngapain sama dia?"

Bukannya menjawab,  Satria malah nyengir. Lantas beranjak ke dapur membuka kulkas dan mengambil dua kaleng minuman soda. Aku mengikutinya.

"Menurut lu?"

Aku mencoba menahan emosiku agar tidak meledak. Apa tadi dia bertemu Nela? Kalau benar kenapa dia bisa sesantai itu?

"Jadi tadi Karin beneran menginap. Apa sekarang dia masih disini?"

"Udah pulang, sekitar 15 menit yang lalu."

Alisku bertaut. Lima belas menit lalu? Itu artinya saat Nela kesini wanita itu masih ada. Aku tak habis pikir. Sebenarnya Nela bertemu Satria atau tidak. Atau dia tidak bisa menemukan unit Satria? Nyasar begitu.

"Sebelum gue, apa ada yang datang kesini?"

"Entahlah, kayanya gak ada. Tamu gue cuma lu hari ini. Emang kenapa?"

Jadi Satria tidak bertemu Nela. Lalu dari mana Nela tahu kalau Satria ada di apartemennya?

"Gue balik dulu Sat."

"Lu kesini gak berniat cuma ngelongok apartemen gue yang berantakan ini kan?"

"Sorry,  gue tiba-tiba ingat ada janji dengan teman kantor," bohongku. Tanpa berlama-lama lagi aku segera beranjak.

🌸🌸🌸

Sudah tiga bulan Nela bekerja di Jakarta. Dia juga sudah menemukan tempat tinggal yang cocok. Dekat dengan tempat kerjanya. Setiap pulang kerja aku sempatkan untuk mampir ke sana. Memastikan dia baik-baik saja. 

Tapi sepanjang pantauanku dia terlihat sangat menikmati kehidupannya. Dan belakangan aku tahu sesuatu. Ternyata Nela tidak pernah memberitahu keberadaannya di Jakarta pada Satria. Aku tidak tahu maksud gadis itu apa menyembunyikan itu semua. 

Tapi selama dia bahagia,  itu cukup buatku. Dan bahkan yang membuatku heran, dia jarang sekali membicarakan Satria seperti dulu. Setiap kali kutanya hubungannya dengan Satria,  dia hanya menjawab semua baik-baik saja.

Hari minggu Nela mengajakku jalan ke mall. Dia memaksaku menemaninya belanja. Jujur aku malas sekali. Kamu tahu kan? Kalau wanita berbelanja? Tidak ada dalam agendaku liburan buat belanja. Aku ingin bangun siang, main PS, nonton film favorit, dan bermalas-malasan di kamarku saja. Nela bilang, aku kelihatan jonesnya. Kurang ajarkan dia?

Kalau sudah seperti ini, aku jengkel sendiri dengan keputusannya yang tidak mau memberitahu Satria dia berada di Jakarta. Aku siap saja membantunya asal tidak menemaninya berbelanja. Dan kamu tahu? Sudah dua jam lebih aku berada di mall keluar masuk toko. Dan aku tak melihat raut lelah sedikitpun di wajah Nela. Padahal aku sudah sangat kelelahan dengan seabreg tentengan miliknya. OhMy...  Mimpi apa aku semalam?

Aku melipat mukaku saat kami berada di salah satu restoran di mall ini. Kami berniat makan siang. Sedang Nela tak henti-hentinya berheboh ria menceritakan petualangannya berbelanja hari ini. Aku mengaduk asal minuman di depanku,  bosan mendengar dia bercerita beli ini itu seolah itu membuatku tertarik saja.

"Van...,  muka kamu ko bete gitu sih."

"Aku cape Nel,"

Dia meringis. "Maaf deh. Eh! Aku beliin sesuatu loh buat kamu."

Kemudian dia nampak antusias mencari sesuatu di antara seabreg paper bagnya.

"Ini buat kamu,"  katanya sumringah menyodorkan sebuah hardbox ke arahku.  Dengan malas aku menerimanya.

"Buka dong,  kamu pasti suka."

Aku menurut saja. Dan aku melihat sebuah dasi berwarna navy motif diagonal berada manis didalam kotak itu.

"Aku lihat itu dan sepertinya sangat cocok buat kamu Van. Gimana? Kamu suka?"

"Iya,  makasih."

Suka. Apalagi kalau kamu yang memakaikannya.

"Mudah-mudahan suatu hari aku bisa mengikatkan dasi itu saat kamu mau berangkat kerja," ucapnya sambil lalu seraya menyesap minumannya.

Tapi kata-katanya itu malah berdampak aneh buatku. Aku sempat tertegun. Memandang Nela tak mengerti.

"Makanku sudah habis," ujar Nela bersuara. Membuatku sadar sudah menatapnya terlalu lama. Tanpa peduli omongannya aku menandaskan makananku yang masih tersisa sedikit lagi.

"Aku rasa ini waktunya... " katanya tiba-tiba membuatku menoleh padanya.

"Waktu untuk apa?"

Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah berdiri mendorong kursinya. Lalu berjalan melewatiku. Hey! dia mau kemana? Kuikuti kemana dia beranjak dengan mataku.

Mataku terbeliak saat melihatnya berhenti di sebuah meja yang dihuni oleh sepasang pria dan wanita. 

Aku menelan ludah. Mereka yang duduk disana itu tak lain dan bukan adalah Satria dan Karina. Tubuhku menegang,  aku khawatir akan terjadi sesuatu. Apa yang harus aku lakukan?

Aku menyusul Nela akhirnya. Meskipun tidak tahu apa yang akan aku lakukan nanti.  Setidaknya saat emosi Nela memuncak aku harus ada untuk mengendalikannya. Itu yang ada diotakku. Wanita kalau sudah memergoki pasangannya selingkuh biasanya akan mengamuk tak pandang situasi.

Belum sampai aku ke meja itu,  langkahku terhenti. Tidak seperti yang aku bayangkan. Aku sama sekali tidak melihat amarah di wajah Nela. Yang ada dia nampak tenang. Berbeda dengan Satria yang nampak tegang di tempatnya.

"Kamu siapa?" tanya Karina.  Aku masih bisa mendengar percakapan mereka.

"Aku yang pernah datang ke apartemen mencari Satria. Apa mbak ingat?"

Karina tampak mengangguk.

"Aku tunangan Satria."

"Apa?"

"Tapi tenang saja. Mulai saat ini... " Nela melepas cincin yang dipakainya dan meletakkan tepat di meja itu. "...  Aku sudah bukan tunangan lelaki brengsek ini lagi."

"Nela aku..." Satria yang nampak ingin bersuara tertahan oleh gerakan tangan Nela. Lantas kulihat gadis itu tersenyum.

"Aku tidak mungkin mau melanjutkan hubungan dengan pengkhianat seperti kamu. Sekarang kamu bebas  tidur dengan wanita manapun yang kamu mau. Kita sudah tidak ada ikatan apapun lagi."

Nela melangkah meninggalkan mereka. Namun belum ada tiga langkah dia berbalik. Tangan halusnya berayun jatuh mengenai pipi Satria dengan keras.

"Nela... Aku... "

Nela mempercepat langkahnya dan saat sampai di depanku yang masih saja terbengong-bengong oleh kejadian barusan, dia menarik lenganku menyeretku untuk pergi bersamanya. Tentu saja tidak lupa dengan seabreg belanjaannya yang tadi sempat dia tinggal.

Sempat aku dengar Satria meneriakkan namanya. Sepintas kulihat dia akan mengejar kami tapi ditahan oleh Karina. Lalu kulihat satu tamparan lagi mendarat di pipi Satria,  kali ini Karina yang melakukannya.

🌸🌸🌸

Bukan Nela yang syok,  melainkan aku. Semua sungguh diluar pikiranku. Bahkan saat di restoran aku tidak menyadari keberadaan Satria. Mungkin jika tahu, aku tidak akan memilih restoran itu untuk makan siang kami.

"Kamu baik-baik aja kan?" tanyaku hati-hati meliriknya sekilas karena aku sedang menyetir.

"Tentu saja baik. Emangnya aku kenapa?"

"Kamu baru saja mutusin pertunangan kalian."

Nela mengibaskan tangannya. "Udah basi sih sebenernya. Aku hanya nunggu moment yang tepat buat balikin cincinnya."

"Maksud kamu?"

Dia menghela nafas panjang.  "Aku diam bukan berarti aku gak tau. Aku gak sebodoh itu Van. Saat dia sudah jarang menghubungiku aku sudah menduga ada yang gak beres. Makanya aku gak terlalu berharap. Dan saat dia pulang untuk melamar, aku sempat mendengar kalian berdebat. Dan aku gak tau alasan kamu apa menutupi semuanya dariku."

Oke kali ini aku merasa sangat bersalah. Aku terima kalau Nela marah. "Aku minta maaf, aku hanya gak ingin liat kamu sakit hati."

"Tapi aku merasa dibohongi Van. Kalau kamu gak selalu ada di samping aku. Mungkin sekarang aku akan sangat marah. Karena aku juga sempat kecewa sama kamu."

"Aku tidak membohongimu, aku hanya diam. Kamu kelihatan bahagia, gimana aku bisa tega bikin kamu sakit hati?"

"Ujung-ujungnya juga aku sakit hati."

"Aku minta maaf."

"Sudahlah, aku yang bego disini. Bisa percaya saja sama dia."

"Aku pikir dia sudah berubah setelah bersama kamu. Karena hubungan kalian bisa bertahan hingga setahun lebih. Sebelumnya Satria tidak pernah serius menjalin hubungan dengan siapapun."

"Nyatanya?"

"Aku kira kamu tadi akan mengamuk di sana."

"Terus mempermalukan diri sendiri? Maaf saja. Seperti itu hal yang penting saja buatku. Cintaku sama Satria hilang gak berbekas sejak aku bertemu wanita itu di apartemennya dengan muka kusut dan penuh tanda merah di lehernya. Aku mendadak mual membayangkan apa yang sudah mereka lakukan."

Apa? Aku melebarkan mata, agak sedikit terkejut. Dan Nela tidak menunjukkan kemarahannya  sedikitpun? Sebenarnya terbuat dari apa hati wanita di sampingku ini? Jadi, selama ini aku salah sudah terlalu mencemaskannya? Nela sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja diselingkuhi.

"Kamu diam saja melihat itu semua?"

"Kalau kamu pikir aku akan mengamuk dan mencaci maki mereka, kamu salah. Itu cuma buang-buang energi saja. Aku hanya akan memastikan dia akan menyesal sudah main-main di belakangku."

Aku menatap takjub. Salah jika aku berpikir Nela adalah wanita yang rapuh.  Ternyata dia kuat dibalik sifat manjanya.

"Aku yakin Satria akan menyesal sudah nyakitin kamu."

Aku mengantar Nela ke tempat tinggalnya. Dia menyewa sebuah rumah kecil yang hanya memiliki satu kamar. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari kantornya.

Aku melempar tubuhku ke sofa ruang tamu begitu Nela membuka pintu rumahnya. Kakiku rasanya pegal semua.

"Aku harap ini pertama dan terakhir kamu mengajakku belanja kaya gini Nel," keluhku memejamkan mata.

Nela tergelak. Entah sejak kapan aku mulai menyukai gelak tawa itu. "Sory deh."

Seakan belum lelah dengan petualangannya hari ini,  sekarang dia mulai membongkar belanjaannya. Aku rasa dia dapat bonus cukup banyak dari bossnya hingga berbelanja begitu banyak. Baru kali ini aku melihat ada orang putus dari kekasihnya tapi terlihat begitu bahagia dengan segambreng barang-barang belanjaan. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.

"Jangan harap aku mau kamu ajak belanja lagi."

"Katanya sayang. Diajak belanja aja udah ngeper."

"Apa hubungannya? Belanja ya belanja aja,  sayang ya sayang aja. Gak ada sangkut pautnya."

"Jadi gak sayang nih?"

Dahiku berkerut. Tanganku yang tadi kuposisikan menutup mata terangkat.

"Apa?" tanyaku bingung.

"Iya kamu. Sayang gak sama aku?"

Mataku mengerjap beberapa kali. Mencoba mencerna pertanyaan Nela. Maksudnya apa? Aku mengubah posisi yang tadi berbaring menjadi duduk. Masih dengan tampang bengong aku menatap Nela.

"Ditanya kok malah bengong sih?"

Perasaan gugup menghampiriku saat kesadaranku perlahan kembali. Sayang?
Aku berdehem sesaat mengatasi kecanggunganku.

"Ya...  Ya tentu saja. Sebagai teman ya aku sayang sama kamu," ujarku sedatar mungkin.

Nela menghela nafas. Entah cuma perasaanku, aku merasa Nela terlihat kecewa.
Kenapa situasinya mendadak tidak enak begini? Aku tidak suka.

Nela mengangguk perlahan. "Aku juga sayang kamu sebagai teman," ujarnya pelan.

Aku lantas berdiri. Lebih baik aku pulang. Perasaanku mulai tak enak. 

"Aku pulang dulu. Sudah sore," pamitku pada Nela yang dijawab cuma anggukan.

"Evan... "

Tubuhku menegang. Tanganku hampir meraih gagang pintu saat suara Nela terdengar memanggilku.
Dia berdiri beberapa langkah di belakangku. Dengan pelan aku berbalik ke arahnya. Kulihat dia menunduk.

"Ada apa?"  tenggorokanku rasanya tercekik saat menanyakan itu. Aku belum pernah merasa secanggung ini di depan Nela.

"Terima kasih ya udah nemenin aku hari ini. Eh gak,  bukan cuma hari ini. Kayanya hampir tiap hari kamu selalu sempatin nemenin aku."

Aku meringis. Ternyata cuma ucapan terima kasih, tapi kenapa aku sehoror ini menanggapinya?

Aku mengusap dahiku salah tingkah. 

"Aku senang melakukannya. Gak usah berterima kasih."

Nela tersenyum, lalu kakinya melangkah mendekat. Sinyal di otakku bekerja. Aku menahan nafas saat kurasakan Nela meraih tanganku.

"Aku rasa... Jatuh cinta sama kamu gak akan sulit."

Hororku sekarang beralasan. Bagus. Kamu bikin jantungku melompat-lompat tak terkendali Nela.

"Kamu... "

"Aku terlambat menyadarinya. Yang aku butuhkan ternyata kamu. Aku berpacaran dengan Satria tapi aku banyak menghabiskan waktu sama kamu."

"Nela..."

"Maaf kalau selama ini aku tanpa sengaja sudah bikin kamu sakit hati. Jika sekarang aku sudah gak ada di hati kamu. Setidaknya tetaplah ada disisiku saat aku membutuhkanmu."

Cukup! Nela sudah terlalu banyak bicara. Aku berbalik menarik tangannya agar lebih merapat. Tatapan kami beradu. Jarak kami terlampau dekat bahkan helaan nafas Nela bisa aku rasakan. 
Debaran yang aku pikir sudah menghilang bisa aku rasakan kembali. Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Selama ini aku menekan perasaanku. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada pacar temanku sendiri.

Entah dapat keberanian dari mana, aku mendekatkan wajahku. Mengikis jarak antara aku dan Nela. Bisa aku rasakan hangat nafasnya. Aroma stroberi yang berasal dari tubuhnya terhidu. 

Mata Nela terpejam. Aku tahu maksudnya apa. Sebelum otakku bekerja dengan sempurna,  kulabuhkan bibirku ke bibirnya. Lembut dan kenyal. Tanpa aku duga,  Nela merespon ciumanku dengan membuka sedikit mulutnya. Dia memang tidak membalas ciumanku,  tapi aku tahu dia menerimanya.

Setelah beberapa saat aku melepas pagutanku, kecanggungan menyergap kami.

"Aku gak akan minta maaf. Aku merasa yang aku lakukan tadi gak salah," kataku pelan.

"Aku gak nyuruh kamu minta maaf. Tapi rasanya agak aneh. Apa benar kamu menyayangiku hanya sebatas teman? "

Bohong kalau aku jawab iya. Tapi aku tidak lupa sudah bilang begitu tadi. Sekarang apa yang bisa ditutupi lagi? Mana ada seorang teman mencium temannya disitu. Apa tadi? Bibir, iya di bibir. Dan aku menikmati itu.
Aku menghembuskan nafas pelan. Oke baiklah.

"Maaf kalo tadi aku gak jujur. Aku hanya gak yakin. Aku gak mungkin suka sama pacar sahabatku."

"Mantan, kalo kamu lupa."

"Iya, tapi rasanya gak etis."

"Setelah apa yang dia lakukan padaku? Apanya yang gak etis? Kecuali kalo kamu membenarkan tindakannya."

"Tentu saja gak. Biarpun dia sahabatku."

"Jadi?"

"Apanya yang jadi?"

Nela menatapku kesal. Apalagi memang?

"Kamu tadi menciumku Evan. Aku gak membiarkan laki-laki menciumku seenaknya."

Oh My...,  aku juga tidak bodoh.

"Segera mungkin aku akan melamar dan menikahimu."

Nela mendelik. "Secepat itu?"

Lalu dia berharap apa?

"Nela, umurku udah gak pantas buat pacar-pacaran lagi. Aku hanya ingin menjalin hubungan yang serius. Kamu gak mau?"

"Bukan begitu. Aku hanya kaget aja."

"Oke, kamu udah resmi aku taken. Jangan harap kamu bisa lari dariku."

Nela menganga. Katakanlah aku berlebihan. Tapi ini menakjubkan. Semua diluar skenarioku. Malam tadi aku tidak bermimpi apapun sebagai pertanda akan terlibat pembicaraan seperti ini dengannya.

Tidak berhenti sampai disini. Hubunganku dengan Nela akhirnya berlanjut ke tahap yang lebih serius setelah tidak lama aku melamarnya. 

Satria benar,  aku memang sudah mencintai Nela jauh sebelum dia berpacaran dengan gadis itu. Aku menyimpan perasaanku, karena aku tahu Nela sangat mengagumi Satria waktu itu. 

Apalagi Satria juga sedang berusaha mendapatkan cintanya. Aku tidak mungkin berada di tengahnya. Aku menelan kecewaku saat mereka memutuskan untuk berpacaran. 

Mendengar aku bertunangan dengan mantan tunangannya,  Satria sempat marah, mengataiku menggunting dalam lipatan. Sebelum akhirnya dia menerima takdirnya dan menyadari kesalahannya.

"Mungkin yang Nela butuhkan lu,  bukan gue yang jelas sudah nyakitin dia. Jaga dia ya bro...," ucapnya saat menghadiri pernikahan kami. 

Tidak ada dendam di matanya. Aku mendengar ada ketulusan di nadanya. Dan kami memang akan terus bersahabat walaupun pada akhirnya orang yang dia pernah miliki jatuh di pelukanku. 

TAMAT








DIA, NELA!

DIA, NELA! (kisah cintaku) Nela menyambutku antusias. Aku tahu apa yang membuatnya seperti itu. Tentu saja,  dengan kedatanganku itu ...